
This article was originally written in bahasa Indonesia and published in Project Multatuli. The key points of this article are presented in English below, followed by the original version of the story. For a full English version of this article, please click on the “Translate page with Google” button on the upper right-hand side.
Key Points
- In 2022, the Indonesian government started to build the Nusantara Capital City (IKN) in East Kalimantan. The area, which covers 256,142 hectares, is expected to host the new capital city and house around 1.7-1.9 million new residents.
- According to environmental organization Auriga Nusantara, deforestation in Kalimantan reached 129,896 hectares in 2024, with East Kalimantan (the location of the new capital) as the province with the highest rate of deforestation at 44,483 hectares of forest cleared for the timber and palm oil industries.
- The conversion of forests into settlements appears to have increased mosquito attacks, particularly by the Anopheles species that carries malaria. However, concerns and prevention measures regarding mosquito attacks haven’t been a priority in Indonesia's development process. In 2025, 142 cases of malaria were found in the National Capital Region, with four people contracting the disease locally.

As a nonprofit journalism organization, we depend on your support to fund more than 170 reporting projects every year on critical global and local issues. Donate any amount today to become a Pulitzer Center Champion and receive exclusive benefits!
Ancaman Nyamuk Berbahaya di Kota Masa Depan Hasil Deforestasi
Banyak orang ingin menaklukkan nyamuk yang mematikan tetapi lupa caranya menghentikan deforestasi.
DUA dekade silam, saat usia Arman Jais masih 18 tahun, ia pernah jadi gila karena nyamuk.
Arman tinggal di Kampung Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Ia, orangtuanya, dan leluhurnya bagian dari Komunitas Adat Balik sering keluar masuk hutan untuk mencari kebutuhan hidup.
Berawal dari suatu sore setelah mandi di hutan Sepaku, tiba-tiba Arman demam. Badannya menggigil dan persendiannya terasa sakit. Pagi harinya, ia langsung dibawa ke luar hutan dengan tandu sarung menuju kampung. Keluarga lalu membawanya ke Balikpapan bertemu seorang dokter.
Arman didiagnosis terserang malaria. Ia menjalani perawatan di rumah.
“Kepala menjadi berat sekali dan selalu ingin muntah,” katanya. “Kalau demamnya datang, tubuh seperti mau terbakar. Tapi rasanya sangat dingin.”
Beberapa minggu kemudian, tubuhnya semakin lemah dan tidak bisa digerakkan. Makan, minum, buang air harus dibantu orang lain. Arman mengalami kelumpuhan sementara selama dua bulan.
Arman menggambarkan keadaannya seperti mayat hidup. “Hampir tak ada harapan untuk bisa sembuh. Karena badan juga makin kurus hanya kulit dibungkus tulang itu,” katanya.
Perawatan berkala membuat tubuhnya dengan perlahan bisa bergerak, berdiri, dan berjalan lagi. Tapi serangan parasit malaria belum berhenti.
Kali ini kepalanya lebih riuh. Ia acapkali berhalusinasi melihat hantu. Ada yang bergelantungan di plafon rumah, atau melihat sosok besar di jalanan bersanding dengan pohon. Tubuhnya juga masih sering terasa panas.
“Beberapa kali saya melompat ke sumur. Untung sumurnya tidak dalam. Saya tidak sadar melompat itu. Nanti kalau badan terendam dan pelan-pelan terasa nyaman, baru sadar kembali kenapa saya masuk sumur,” kata Arman.
“Jadi kalau orang bilang, kena malaria bisa jadi gila. Mungkin seperti itu, dan benar.”

Arman, kini berusia 38, baru mengetahui tipe malaria yang menyerangnya adalah tropika atau Plasmodium falciparum. Namun, ia maupun masyarakat setempat, tidak mengetahui persis jenis nyamuk dari genus Anopheles mana yang membawa parasit itu.
Dari tutur masyarakat, nyamuk pembawa malaria lebih besar dari nyamuk lain. Tubuhnya memiliki bintik putih. Sementara nyamuk hutan memiliki tubuh kecil dan berwarna hitam. Bila menggigit, nyamuk hutan akan membuat kulit sangat gatal tetapi tidak berbahaya, Arman menjelaskan.
Arman mengingat, pada periode ia remaja, pernah juga seorang warga lain menderita penyakit kaki gajah akibat infeksi cacing filaria yang dibawa oleh nyamuk Culex.
Di hutan, serangan binatang seperti ular atau babi besar yang bisa mengamuk, dapat diantisipasi. Namun, serangan yang paling mematikan menurutnya adalah nyamuk.
“Nyamuk memang kecil, tapi jumlahnya ribuan. Jadi bagaimana melawannya.”
Wulan Sari Sembiring, peneliti Laboratorium Kesehatan Masyarakat di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, menunjukkan kepada kami bentuk nyamuk Anopheles.
Dengan mikroskop, nyamuk Anopheles minimus terlihat memiliki tiga belalai panjang. Dua belalai dinamakan palpi yang berfungsi sebagai organ sensorik untuk mendeteksi inang dan udara sekitar. Belalai lainnya dinamakan proboscis yang dipakai untuk mengisap darah.
Parasit malaria dikenal dengan nama Plasmodium. Di Indonesia, Anopheles membawa masing-masing Plasmodium falciparum (malaria tropika), Plasmodium vivax (malaria tersiana), Plasmodium malariae, Plasmodium ovale, dan Plasmodium knowlesi. Anopheles berbeda dengan nyamuk Aedes aegypti yang membawa parasit penyebab penyakit demam berdarah.

Sepanjang 1990-2009, Sepaku yang kini menjadi wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) merupakan kawasan dengan endemisitas malaria tinggi.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), sampai periode 2017-2024, kasus malaria di Kabupaten Penajam Paser Utara masih paling tinggi dibandingkan kabupaten/kota lain di Kalimantan Timur, meski kecenderungan kasusnya terus menurun.
Pada 2024, Badan Otorita IKN membentuk satuan tugas penanganan penyakit, termasuk malaria, untuk merespons faktor endemisitas ini demi mengejar status IKN sebagai kota layak huni.
Pada 3 Agustus 2025, tim peneliti dari Laboratorium Kesehatan Masyarakat Tanah Bumbu, Dinas Kesehatan Kabupaten Penajam Paser Utara, dan kader malaria, melakukan survei nyamuk dan jentik di bendungan kecil di belakang rest area dekat Kantor Badan Intelijen Negara di IKN. Awalnya, survei juga akan mencakup kawasan IKN tapi tidak diizinkan Badan Otorita.

Tim mengumpulkan nyamuk sejak pukul 6 sore hingga 6 pagi. Mereka menemukan sekitar 86 nyamuk Anopheles yang terdiri dari Anopheles minimus, Anopheles umbrosus, Anopheles tessellatus, dan Anopheles leucosphyrus.
Dari hasil uji laboratorium, semua nyamuk itu negatif Plasmodium, atau parasit pembawa malaria. Namun, nyamuk-nyamuk ini tetap memiliki potensi penularan jika menemukan manusia atau vektor yang positif malaria.
Akhmad Wahyudin, Tenaga Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Tanah Bumbu, mengatakan bahwa selama ini malaria sering dilihat sebagai satu penyakit tunggal. Padahal, pasien yang terkena malaria parah bisa saja menimbulkan risiko penyakit lain, seperti gangguan tumbuh kembang pada anak dan dewasa, malnutrisi, pendarahan, kelahiran prematur, anemia kronis, kerusakan pada fungsi hati, hingga kematian.
“Jadi jika ada pasien yang masuk rumah sakit karena pendarahan, maka petugas medis akan melaporkannya seperti itu. Jadinya kalau seperti itu, tidak ada lagi malaria dilaporkan,” kata Wahyudin.
Di sisi lain, Kementerian PPN/Bappenas menargetkan sekitar 1,7-1,9 juta orang baru akan menjadi penduduk IKN. Lonjakan jumlah populasi ini cukup mengkhawatirkan bagi para peneliti nyamuk. Sebab, orang-orang baru atau pendatang itu akan menjadi rentan penularan.

Harjito Ponco Waluyo, Pejabat Fungsional Pengelola Penanggulangan Demam Berdarah dan Malaria, Dinas Kesehatan Penajam Paser Utara, mengatakan perlu ada pemantauan ketat untuk setiap orang yang akan bekerja dan/atau menetap di IKN.
“Potensi penyebaran tetap harus diwaspadai karena ribuan orang berinteraksi di sekitaran IKN,” katanya.
Deforestasi dan Perubahan Habitat
Sepaku bersisian dengan wilayah IKN yang luasnya 260 ha.
Sebelum pembangunan IKN, kawasan ini dulunya hutan sekunder dan wilayah tanaman industri serta rumah bagi banyak spesies nyamuk.
Wahyudin menolak anggapan bahwa nyamuk adalah spesies yang tidak signifikan atau hama bagi biodiversitas hutan. Nyamuk, menurutnya, memiliki peran penting dalam rangkaian ekosistem yang saling mendukung. Beberapa jenis burung kecil makan nyamuk. Kadal makan nyamuk. Predator lain seperti katak dan ikan memakan jentik nyamuk.
“Kalau orang bilang nyamuk harusnya dimusnahkan, itu jelas keliru,” katanya.
Populasi serangga mencapai hampir 70 persen dari seluruh hewan di dunia, sebut laporan IUCN. Untuk nyamuk, ada sekitar 3.500 jenis di seluruh dunia. Di Indonesia terdapat sekitar 456 spesies, dengan 430 spesies adalah Anopheles. Sebanyak 30 spesies Anopheles di Indonesia dapat menularkan malaria.
Salah satu spesies Anopheles flavirostris adalah yang paling tertarik pada mamalia besar seperti kerbau, sapi, dan manusia.

Sutikno, berumur 55 tahun, warga Desa Bukit Subur, Kecamatan Penajam yang menjadi wilayah penyangga IKN, pernah menyaksikan kematian yang disebabkan malaria. “Dulu di kampung sini hampir setiap minggu selalu saja ada orang meninggal karena malaria,” katanya.
Bukit Subur merupakan kawasan hutan dengan kanopi rapat pada awal 1990an . Wilayah ini awalnya menjadi bagian dari konsesi PT Belantara Subur. Tapi, melalui program transmigrasi, tempat itu dibuka menjadi permukiman.
Sutikno bersama ratusan warga lainnya adalah pendatang dari program transmigrasi pada 1993. Mereka mendapatkan tiga sertifikat kepemilikan: lahan kebun seluas 1 ha dan rumah di atas tanah seluas 20 x 25 meter.
Mereka bekerja di PT Belantara Subur. Pohon besar berdiameter 2 meter ditebang untuk kebutuhan perusahaan. Mahoni dan ulin menjadi kayu utama perusahaan. Perusahaan membuatkan rumah sederhana untuk mereka tinggal.
“Waktu itu masuk ke kampung ini seperti masuk ke rumah nyamuk, ribuan atau jutaan mungkin,” kata Sutikno.
Di belantara hutan itu para perintis awal kampung bertahan. Akhirnya, hutan menjadi hilang dan pemukiman terbentuk.

Tapi Sutikno dan para pendatang harus membayar mahal untuk mendapatkan lahan itu. Pada 1996, ia terserang malaria dan menderita hingga delapan bulan. Sakit kepala luar biasa dan semua persendian terasa lumpuh.
“Kalau malam dan mau tidur seperti akan mati,” kenaangnya, seraya menambahkan ada beberapa pendatang yang bahkan meninggal dunia karena malaria.
“Bahkan ada perempuan hamil kena malaria. Janinnya mati dalam perut dan ibunya juga meninggal. Sedih sekali.”
Meningkatnya angka penderita malaria pada manusia berhubungan dengan aktivitas pembukaan lahan.
Kalimantan adalah pulau dengan laju deforestasi tertinggi di Indonesia, disusul Papua. Sepanjang 2024, Auriga Nusantara mencatat deforestasi di Kalimantan mencapai 129.896 ha, dengan Kalimantan Timur sebagai provinsi tertinggi dengan 44.483 ha lahan hutan yang digunduli untuk kayu maupun sawit.
Pembabatan hutan membuat nyamuk, yang sebelumnya terisolasi di hutan, menjadi terpapar pada lingkungan baru yang lebih dekat dengan manusia. Selain itu, aktivitas dalam bisnis deforestasi seperti laju kendaraan berat dan ringan yang meninggalkan kubangan bekas ban bakal menjadi tempat baru bagi nyamuk meletakkan jentik.
Di IKN, misalnya, pada 2025 ditemukan 142 kasus malaria dan 4 orang berasal dari penularan setempat (indigenous).

“Kelak di IKN mungkin malaria akan hilang. Tapi di wilayah penyangga, yang infrastrukturnya baru dibuka, akan terbentuk pemukiman baru. Dan itu menjadi rentan penularan malaria selanjutnya,” tambah Ponco dari Dinas Kesehatan Penajam Paser Utara.
Laman khusus malaria dari Kementerian Kesehatan mencatat jumlah kasus positif malaria pada 2022 mencapai 443 ribu, dengan 89 persennya dilaporkan dari Papua. Kasus ini tercatat meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Nyamuk yang Tak Pernah Hilang
Isra Wahid, pakar nyamuk dari Fakultas Kedokteran di Universitas Hasanuddin yang telah meneliti nyamuk sejak 2009, mengkhawatirkan laju deforestasi terus meningkat akan menyebabkan spesies nyamuk semakin tersebar di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan manusia.
Kekhawatirannya merujuk pada semakin banyak penemuan parasit malaria Plasmodium knowlesi di beberapa titik di Kalimantan; pada 2012 di Kalimantan Selatan dan pada 2025 di Kalimantan Timur. Plasmodium knowlesi adalah parasit yang berasal dari kera ekor panjang di Asia Tenggara tetapi kini semakin sering menginfeksi manusia.
Isra menggarisbawahi semakin banyak kasus Plasmodium knowlesi ditemukan pada manusia adalah alarm berbahaya. “Mungkin saja seperti ini awal mula (pandemi) malaria berkembang.”

Isra mengulas salah satu adegan pada film Jurassic Park produksi Hollywood tahun 1993. Tokoh utamanya Bernama Jhon Hammond seorang naturalis yang ingin menghidupkan kembali dinosaurus. Dalam sebuah penggalian, ia menemukan nyamuk yang terperangkap dalam batu amber.
Nyamuk kemudian diteliti dan terlihat di dalam perutnya ada darah yang tersimpan dan itu adalah darah salah satu spesies dinosaurus. “Kau tahu, film itu benar-benar salah total,” kata Isra.
Nyamuk yang terperangkap itu adalah jenis Toxo (Toxorhynchites), nyamuk besar yang disebut “nyamuk gajah” karena ukurannya. Tapi nyamuk ini menjadi salah satu jenis yang tidak menghisap darah, melainkan nektar bunga.
“Di film itu nyamuk Toxo, jantan, dan darah di perutnya masih merah. Padahal, nyamuk yang menghisap darah, kalau sudah melewati sehari, perutnya akan kelihatan hitam.”
“Yang saya mau bilang, semua orang menikmati film itu pada masanya. Seperti semua orang membenci nyamuk, tapi cara mengendalikannya tak pernah selesai,” kata Isra.

Malaria, bagi Isra, bisa menjadi “siklus” kala program pembuatan permukiman baru berada dalam wilayah hutan. Di Makassar, pada masa kolonial, pernah juga terjadi penularan malaria karena masih banyak hutan dan rawa.
“Tapi, pelan-pelan mulai menghilang. Tapi apakah nyamuk Anopheles benar-benar bersih di Makassar? Tidak ada yang menjamin. Faktanya, nyamuk Anopheles tetap ada ditemukan di daerah pinggiran kota yang memiliki sawah dan berawa-rawa,” katanya.
Contoh lain ketika program transmigrasi di beberapa tempat seperti Sulawesi Barat atau bahkan di Kalimantan. Pemukim baru ditempatkan di kawasan hutan, dan seiring itu biasanya muncul banyak kasus malaria.
Permukiman yang menghilangkan lanskap hutan awal akan menghadirkan lebih banyak wadah buatan atau artificial container. Sehingga, ketika masih habitat alami, spesies yang awalnya lebih dominan Anopheles perlahan berubah atau tergantikan menjadi Aedes.
“Begitu sudah jadi kampung, aktivitas perekonomian tinggi, mobilitas tinggi, arus artificial container semakin banyak, maka malaria pelan-pelan akan digeser oleh penyakit DBD,” katanya.