Terjemahkan halaman dengan Google

Artikel Publication logo Oktober 12, 2026

Kerja Keras Bagai Kuda, di Armada Kapal Korea

Penulis:
Seafood verticle
Inggris

The high demand for seafood is not matched by the availability of domestic labor.

author #1 image author #2 image
Berbagai penulis
SECTIONS

Kerjamu selesai. Giliranmu belum.
Umpan, tali, ikan, pisau, palka — lalu coba penuhi kebutuhanmu sendiri.


AQWAM HANIFAN / wartawan pemandu

Nama saya Aqwam Hanifan. Saya wartawan.

Beberapa bulan terakhir saya menelusuri nasib anak buah kapal Indonesia di armada perikanan jarak jauh berbendera Korea Selatan. Menurut angka resmi pemerintah Korea, 3.469 ABK Indonesia bekerja di sana — delapan dari setiap sepuluh awak asingnya.


Sebagai organisasi jurnalisme nirlaba, kami bergantung pada dukungan Anda untuk membiayai liputan jurnalisme tentang isu-isu yang kurang diliput di seluruh dunia. Donasikan jumlah berapa pun hari ini untuk menjadi Pulitzer Center Champion dan dapatkan manfaat eksklusif!



Rekonstruksi pelayaran kapal penangkap ikan di laut lepas. Ilustrasi redaksi.

Kapal-kapal ini menangkap tuna, cumi, dan ikan premium untuk pasar Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Mereka bisa 12 sampai 19 bulan di laut tanpa menyentuh pelabuhan. Perbekalan diantar kapal lain; tangkapan dipindahkan di tengah samudra. Tak ada inspektur yang naik. Tak ada wartawan.


Kapal longline di laut lepas. Dokumentasi liputan.

Salah satu awak — kami menyebutnya Widodo, bukan nama sebenarnya — bekerja 14 bulan di Oryong 306, kapal rawai tuna milik Sajo Industries di Samudra Pasifik.

Mesin penyuling airnya rusak pada pekan kedua pelayaran. Selama dua sampai tiga bulan, sebagian air yang ia minum berasal dari pipa pembuangan mesin pendingin ruangan: ditampung, dimasak, lalu diminum.


Galon diikat pada sekat di atas dispenser. Foto dokumentasi narasumber.

Hari kerja normal 15 jam; saat tangkapan banyak, 20 jam. Tidak ada upah lembur. Nanang — juga nama samaran — bekerja di Dongwon 632 dengan gaji pokok US$600 per bulan. Riset EJF dan APIL mencatat rerata upah ABK migran di kapal laut lepas Korea US$694. Pelaut berpaspor Korea: US$6.998.


Rekonstruksi kerja malam di geladak. Ilustrasi redaksi.

Di laut lepas tak ada sinyal telepon. Jembatan satu-satunya ke luar adalah Wi-Fi — dan menurut para awak, aksesnya di tangan kapten. Poster pengaduan ditempel di dinding, tetapi mengaksesnya butuh internet. Perusahaan membantah membatasi air dan internet. Bantahan mereka akan saya sampaikan di setiap babak, berdampingan dengan data dan kesaksian awak.


Poster pengaduan di dinding kapal. Foto dokumentasi narasumber.

Sekarang giliranmu. Kamu akan bekerja dengan TANGANMU SENDIRI lewat webcam: melepas umpan, menarik tali rawai, mendaratkan ikan, memotong, lalu menyusun palka beku. Sebelum SETIAP adegan ada latihan tanpa timer. Berhasil mencoba dulu, lalu tekan Siap, mulai. Mode mudah memberi waktu lebih longgar. Ada pula persiapan alat, urai tali, lapisan es, imbang muatan, mencari celah istirahat, menyusun kalimat, dan jalur pengaduan — adegan edukatif tambahan, bukan rekonstruksi kejadian. Setelah kerja selesai, cobalah memenuhi kebutuhanmu sendiri: minum, mengabari rumah, dan tidur.


Awak menarik tali di geladak. Foto dokumentasi narasumber.

Aqwam Hanifan, penulis liputan ini, menjadi pemandumu. Kutipan dan angka berasal dari liputan; adegan permainan adalah dramatisasi, bukan rekonstruksi satu kapal.

RELATED TOPICS

teal halftone illustration of a construction worker holding a helmet under their arm

Topic

Labor Rights

Labor Rights
a yellow halftone illustration of two trout

Topic

Ocean

Ocean

RELATED INITIATIVES

logo for the Ocean Reporting Network

Initiative

Ocean Reporting Network

Ocean Reporting Network

Support our work

Your support ensures great journalism and education on underreported and systemic global issues