Sekarang pukul 14.06 di tempatmu. Jam segini, di kapal cumi tempat Darto bekerja: berangkat, perjalanan ke lokasi. Ia baru bisa tidur 18 jam lagi, dan hanya sekitar 4 jam.
Berharap gaji lebih besar dan pelayaran lebih singkat, anak buah kapal Indonesia beralih dari kapal laut lepas ke kapal pesisir Korea Selatan. Namun, yang mereka dapatkan adalah tidur empat jam sehari, pekerjaan yang tak sesuai kontrak, serta kekerasan yang mereka alami sendiri atau saksikan menimpa awak baru.
Namanya Abdurrohim. Lelaki 39 tahun asal Indramayu, Jawa Barat, itu sudah empat kali berlayar dengan kapal penangkap ikan berbendera Korea Selatan yang beroperasi di perairan Rusia. Di kalangan anak buah kapal (ABK), kapal semacam itu disebut kapal lepas atau LG, yang membawa mereka bekerja berbulan-bulan jauh dari daratan.
Pada Oktober 2023, Abdurrohim kembali berangkat ke Korea. Setelah lama bekerja di kapal lepas, kali ini ia mencoba peruntungan di kapal pesisir, sebutan para ABK untuk kapal penangkap ikan yang beroperasi di perairan Korea.
"Harapan saya ingin gaji yang lebih baik, lebih adil," kata Abdurrohim. Di kapal lepas, gajinya paling banyak 600 dolar AS sebulan, sekitar Rp10,7 juta. Di kapal pesisir, gajinya minimal 2,3 juta won, sekitar Rp30,6 juta, hampir tiga kali lipat. "Seperti teman-teman yang sukses, ada yang sukses membuat rumah."

Sebagai organisasi jurnalisme nirlaba, kami bergantung pada dukungan Anda untuk membiayai liputan jurnalisme tentang isu-isu yang kurang diliput di seluruh dunia. Donasikan jumlah berapa pun hari ini untuk menjadi Pulitzer Center Champion dan dapatkan manfaat eksklusif!
Abdurrohim bukan satu-satunya. Sepanjang awal 2026, kami mewawancarai tujuh ABK Indonesia yang pernah atau masih bekerja di kapal pesisir berbendera Korea Selatan. Sebagian besar berasal dari pantai utara Jawa: Indramayu, Tegal, dan Pemalang. Lima di antaranya pernah bekerja di kapal laut lepas berbendera China, Taiwan, atau Korea sebelum beralih ke kapal pesisir. Dua di antaranya kami sebut dengan nama samaran.
Pada 2025, data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan mencatat 9.517 awak asing bekerja di kapal pesisir berbobot lebih dari 20 ton. Jumlah itu lebih dari separuh total awak kapal jenis tersebut, yakni 18.097 orang. Sebagian besar awak asing berasal dari Indonesia dan Vietnam. Ketergantungan Korea pada awak asing terus naik. Pada 2003, awak asing baru mengisi 15 persen dari seluruh pelaut yang bekerja di Korea. Dua dekade kemudian, pada 2023, porsinya mencapai 49,9 persen. Pada akhir 2025, menurut Statistik Pelaut Korea 2026 yang diterbitkan Kementerian Kelautan dan Perikanan, 33.171 dari 60.543 pelaut yang bekerja di Korea adalah orang asing, atau 54,8 persen.
Dalam dua laporan sebelumnya, kami menelusuri nasib ABK Indonesia di armada laut lepas Korea. Seorang ABK menghabiskan 14 bulan di Samudra Pasifik dan sempat meminum air dari pipa pembuangan mesin pendingin ruangan. Sebuah kapal cumi hilang dari pantauan satelit selama 10 bulan, bersama awak Indonesia di dalamnya.
Kapal pesisir menjanjikan kehidupan yang berbeda. Kapal-kapal berukuran kecil hingga menengah ini menangkap cumi, layur, kepiting, dan teri di sekitar Semenanjung Korea, lalu kembali ke pelabuhan setelah semalam atau beberapa hari melaut.
Ridawan bekerja dua tahun di kapal Taiwan sebelum pindah ke kapal perangkap kepiting di Korea. Kapal Taiwan, tuturnya, hanya dua kali bersandar selama kontrak. "Di laut satu tahun, satu tahun. Sandar cuma dua kali doang," ujarnya. Di kapal pesisir berbendera Korea Selatan, sekali berlayar menurutnya "paling lima hari, sepuluh hari".

Darto, bukan nama sebenarnya, tiga tahun bekerja di kapal Taiwan sebelum berangkat ke Korea pada Desember 2022. Alasannya gaji. "Kalau di kapal Taiwan itu gajinya cuma seberapa lah. Kalau di Korea kan lumayan agak besar," katanya.
Muhammad Tresno Widianto (30) atau akrab disapa Tresno, ABK asal Tegal, Jawa Tengah, lima tahun berpindah-pindah kapal laut lepas China dan Korea sebelum pindah ke kapal pesisir. "Karena gajinya (di kapal Korea Selatan) yang menggiurkan." Di kapal pesisir, gajinya 2,4 juta won sebulan, sekitar Rp32 juta, sebelum dipotong. Namun, menurut Tresno, gaji itu tidak selalu dibayar rutin setiap bulan.
Bayangan tentang kerja yang lebih ringan itu tidak bertahan lama. Kiki Iskandar, ABK asal Pemalang yang berangkat ke Korea pada 2013, menggambarkan isi kepala para pendatang baru. "Dia pikirnya, 'Wah, di sana gajinya besar, pasti kerjanya enak.' Padahal di Korea itu kerjanya sepuluh kali lipat dari sini, lebih capek," ujarnya.
“Padahal di Korea itu kerjanya sepuluh kali lipat dari sini, lebih capek.”
Kiki Iskandar, menggambarkan isi kepala para pendatang baru
Caswanto, yang belum pernah melaut sebelum berangkat ke Korea, mengaku kaget. "Dalam bayangan saya kerjaannya enggak terlalu ekstrem. Ternyata pas saya kerjakan di sana, kerjaannya lebih ekstrem dari yang saya bayangkan," katanya.
Darto pun menilai kerja di kapal pesisir Korea lebih berat ketimbang di kapal Taiwan. Di kapal pesisir yang awaknya sedikit, setiap orang harus menguasai semua pekerjaan. "Kalau di kapal LG kan semua kerja itu ya itu aja, karena banyak orang," ujarnya.
Lelah yang Tak Sempat Terlelap
Kapal cumi tempat Darto bekerja meninggalkan pelabuhan pukul 13.00. Dua atau tiga jam kemudian, awak menurunkan jangkar parasut dan menunggu malam. Sekitar pukul 18.00, josangi mulai bekerja. Josangi (조상기) adalah mesin pancing cumi otomatis: gulungan bermotor yang berjajar di sisi kapal dan tanpa henti menurunkan lalu menarik tali berisi deretan mata pancing, sementara lampu-lampu terang di atas geladak memancing cumi naik ke permukaan. Darto dan tiga rekannya asal Indonesia berhenti makan pada pukul 20.00 atau 21.00, lalu menarik cumi hingga pukul 05.00.
Pada malam hari, laut di timur Semenanjung Korea dipenuhi titik-titik cahaya. Dalam foto yang diambil awak Stasiun Antariksa Internasional pada September 2016, NASA menyebut titik-titik itu sebagai kapal penangkap ikan di Laut Timur.

Setelah kapal bersandar, mereka membongkar muatan hingga pukul 07.00 atau 08.00, lalu tidur. Pada pukul 12.00 atau 13.00, kapal kembali melaut. Artinya, Darto hanya punya waktu tidur sekitar empat jam sehari.
Itu pun sering terpotong. "Kadang kurang. Ada kerusakan josangi atau mesin, suruh bantu-bantu. Kadang satu jam, kadang enggak tidur. Sambil berangkat lah tidurnya," kata Darto.
Darto menjalani pola kerja seperti itu sejak Desember 2022 hingga April 2025. Bila ia terlihat mengantuk saat bekerja, majikannya menegur. "Majikan membangunkan, 'Ngapain?' Suruh bikin kopi, suruh cuci muka, jangan ngantuk," tuturnya.

"Kalau kurang tidur itu kerja juga sambil, ya katakan tiduran kerja," kata Darto.
Caswanto (39), ABK asal Indramayu, mengalami pola serupa di kapal penangkap layur. Ia dan awak lain bangun pukul 03.00 untuk menyiapkan umpan. Pukul 05.00 mereka menurunkan pancing, makan, lalu tidur setengah jam. Pukul 07.00 mereka kembali bekerja hingga pukul 20.30 atau 21.00.
"Cuma menghabiskan rokok sebentar langsung masuk tidur. Terus jam tiga, jam setengah tiga udah dibangunin lagi," katanya.
Pada musim panas, kapal Caswanto berlayar hingga perairan dekat Taiwan. Ia bisa melaut hingga 40 hari sebelum kembali ke daratan. Selama itu, jam kerja lebih panjang dan awak tidak bisa menghubungi keluarga. "Nggak ada Wi-Fi, bahkan sinyal pun nggak ada," ujarnya.
Tresno bekerja di kapal perangkap kepiting. Pada hari biasa ia mulai bekerja pukul 06.00 dan berhenti pukul 02.00 atau 03.00 dini hari berikutnya. "Di hari-hari normal, biasanya sampai 20 jam. Menurut saya melelahkan," katanya.
Menjelang kapal bersandar, awak harus mengangkat seluruh perangkap ke atas kapal. Menurut Tresno, pekerjaan itu bisa berlangsung 37 jam tanpa tidur. "Paling makan, langsung mulai lagi," ujarnya.
Abdurrohim hanya bertahan 12 hari di kapal pertamanya, sebuah kapal jaring. Bila jaring rusak, awak harus memperbaikinya saat itu juga. "Kerjanya terlalu berat. Kadang berturut hampir dua hari belum istirahat, makan nggak," katanya. Ia lalu meminta agen memindahkannya ke kapal lain.

Kiki, yang berangkat lewat jalur antarpemerintah, ditempatkan di sebuah pulau dan bekerja di kapal kecil yang berlayar semalam. Ia sering dibangunkan dua jam setelah tidur untuk mengangkut alat tangkap ke mobil. Menurut Kiki, pekerjaan itu hanya dibebankan kepada awak asing.
"Orang Korea masih tidur. Orang asing aja yang naikin alat-alatnya. Alat udah naikin semua, suruh bangunin orang Korea. Mereka istirahat lumayan cukup, kita orang asing dua jam. Hampir tiap hari, Mas," ujarnya.

Tidak semua ABK mempersoalkan jam kerja panjang. Fajar, juga nama samaran, berangkat ke Korea pada Juni 2024 setelah tujuh tahun di kapal China dan Taiwan. Ia bekerja dari pukul 04.00 hingga 19.00 di kapal jaring di Ulsan, atau hingga pukul 22.00 bila tali rusak. "Menurut saya sebagai seorang pelaut, itu hal yang wajar," katanya. "Di saat kita banyak ikan, itu kadang tidur cuma satu jam, dua jam."
Namun, kontrak Fajar tidak mengatur batas jam kerja. Majikannya juga tidak membayar lembur. "Yang dia tahu kerjaan itu harus selesai," ujarnya. Ridawan, yang hampir lima tahun bekerja di kapal perangkap kepiting di Mokpo, menyampaikan hal yang sama. "Di kapal nggak ada lembur," katanya.
Jam kerja sepanjang itu tidak melanggar hukum Korea. Undang-Undang Pelaut Korea mengecualikan awak kapal ikan dari ketentuan batas jam kerja. Kontrak standar bagi ABK asing di kapal pesisir hanya menyebut jam kerja mereka setara dengan "jam kerja lazim" pelaut Korea dan majikan wajib memberikan "waktu istirahat yang cukup", tanpa batasan angka.

"Menurut Undang-Undang Pelaut, di kapal ikan tidak ada batas jam kerja. Jadi, selama apa pun awak dipekerjakan, itu tidak melanggar hukum," kata Kim Jong-chul, pengacara di Advocates for Public Interest Law (APIL), kepada Newstapa.

Kontrak di Kapal, Kerja di Darat
Kontrak kerja Darto hanya menyebut satu tempat kerja, yakni kapal. "Setahu saya, saya dipekerjakan untuk di kapal, bukan untuk dipekerjakan di darat dan yang lainnya," katanya.
Namun, setiap kali kapal bersandar, majikan menyuruh Darto bekerja di usaha lain miliknya. "Ada di motel, ada di kantin, ada di kebun. Motelnya sendiri, kebunnya sendiri, kantinnya sendiri," tuturnya.
Darto mengaku takut menolak karena baru pertama kali bekerja di Korea. Pekerjaan tambahan itu memangkas waktu istirahatnya. "Rasa capek baru selesai kerja di kapal, turun, suruh kerja lagi," ujarnya.
Waktu untuk menghubungi keluarga di Indramayu ikut tersita. "Kadang di mes semua lagi telepon sama keluarga, suruh kerja di motel. Nggak ada waktu buat keluarga," kata Darto.
Tresno mengalami hal serupa. Mesnya berada satu bangunan dengan rumah makan milik majikan. "Waktunya istirahat itu disuruh-suruh sama majikan. Saya seperti melakukan pekerjaan tambahan, padahal itu waktunya buat istirahat," katanya.
Di pulau tempat Kiki bekerja, keluarga majikan turut memberi perintah. Saat tidak ada jaring yang perlu dijahit, nenek majikannya menyuruh Kiki ke ladang. "Entah itu nyangkul, panen, nyemprotin tanaman," tuturnya. Kiki juga disuruh membantu tetangga majikan merenovasi rumah. Pada malam hari, setelah membersihkan rumah, ia masih harus menemani awak Korea yang lebih tua minum. "Kita kan capek, udah capek banget," katanya.
Fajar dipindahkan majikannya dari kapal jaring ke pabrik pengolahan teri di darat setelah dua bulan bekerja. Ia ditempatkan di bagian pengepakan. Fajar menerima keputusan itu. Menurut dia, agen sudah memberi tahu bahwa majikan berhak menentukan tempat kerja. "Kerja di atas kapal atau di pabriknya, terserah dari majikan. 'Apakah kamu siap?' Saya bilang siap, di mana saja saya kerja," ujarnya.

Padahal, ABK asing di kapal pesisir masuk ke Korea dengan izin tinggal sebagai awak kapal ikan. Menurut Newstapa, kerja di pabrik pengolahan ikan tidak diizinkan oleh izin tinggal semacam itu.
Belakangan Fajar dan rekan-rekannya mendapati gaji mereka berkurang tanpa pemberitahuan. "Sama sekali dia tidak mengasih tahu. Kita menerima gaji itu ternyata kurang dari biasanya," katanya. Majikan menyuruh mereka bertanya ke Suhyup, federasi koperasi perikanan Korea yang mengurus penempatan ABK asing di kapal pesisir. Dari Suhyup, mereka baru mengetahui bahwa majikan memotong biaya akomodasi sebesar 215 ribu won, sekitar Rp2,9 juta, setiap bulan.
Gaji Fajar sebenarnya sudah mengikuti upah minimum, awalnya 2,4 juta won dan kini 2,6 juta won. Setelah dipotong iuran pensiun nasional Korea dan biaya akomodasi, yang ia terima tinggal sekitar 2,08 juta won, atau sekitar Rp27,7 juta.

Pukulan Menyambut Pendatang
Abdurrohim punya penjelasan sendiri tentang kekerasan di kapal ikan. "Alasannya simpel. Kalau di kapal itu terlalu ngantuk, capek. Kalau udah ngantuk, capek, udah deket sama kekerasan," katanya.
Setelah meninggalkan kapal pertamanya, Abdurrohim dipindahkan ke kapal layur di Jeju. Ia bertahan 25 hari. Ketika ditanya kekerasan apa yang ia alami di kapal itu, Abdurrohim menjawab singkat. "Gampar, tendang, jemur."
Menurut Abdurrohim, kekerasan terjadi sekitar dua kali sepekan dan menimpa delapan ABK Indonesia di kapal itu. Perlakuan terhadap awak lama lebih ringan. "Kalau sama yang senior, paling kayak agak keras, sampai bercanda doang. Kalau yang baru kenal, ya langsung. Tendang beneran," tuturnya.

Suatu hari, ombak besar dan kapal tak kunjung mendapat ikan. Kapten marah, dan Abdurrohim ditendang tiga kali. Ia lalu meminta turun dari kapal. Abdurrohim juga kecewa kepada sesama ABK Indonesia yang tidak membelanya. "Saya kecewa sama sesama ABK Indonesia. Gak mau ngasih pelajaran buat yang baru-baru," ujarnya.
Fajar mengalami kekerasan di kapal pertamanya. Seorang awak Korea di kamar mesin menilai Fajar lamban saat melempar tali dan meneriakinya "pali-pali", bahasa Korea untuk "cepat-cepat". "Saya udah semaksimal mungkin bekerja, tapi dia tetap belum menerima cara kerja saya. Gak tau kenapa, dia dari belakang mukul kepala saya," katanya.
Fajar mengaku kecewa dan marah. "Orang Indonesia itu kepala sebagai mahkota," ujarnya.
Rekan-rekannya justru menyuruh Fajar bersabar. "Saya disuruh sabar, jangan pindah. Memang orang itu sukanya seperti itu sama orang-orang baru," katanya. Menurut Fajar, selama ia bekerja di kapal itu, awak baru yang datang dan pergi semuanya ABK Indonesia.
Darto menyaksikan kekerasan serupa di kapal cumi. Adik majikannya dua kali memukul kepala dan pantat seorang awak baru asal Indonesia pada hari yang berbeda. Menurut Darto, awak itu belum memahami perintah dalam bahasa Korea.
Kiki menyebut kendala bahasa sebagai pemicu utama. Ia belajar bahasa Korea sebelum berangkat, tetapi bahasa di kapal berbeda dari bahasa di buku pelajaran. Suatu kali awak Korea meminta palu, dan ia justru mengambil besi. "Satu kali masih dimaklumi. Satu kali, dua kali pasti udah dongkol," katanya.
Kiki juga tahu di bagian kapal mana kekerasan biasa terjadi. "Kamera biasanya hadapnya ke depan, gak ke belakang. Kekerasan itu biasanya di belakang," ujarnya. Kiki sendiri pernah dipukul kepalanya dengan besi oleh pemilik kapal yang berusia sekitar 70 tahun. Ia membalas, dan keduanya sama-sama dirawat di rumah sakit.
Caswanto tidak pernah dipukul. Namun, awak Korea di kapalnya kerap melempar ikan ke tubuhnya dengan sengaja. "Pura-pura pas lagi narik pancing, buangnya ke badan saya," katanya.
Caswanto juga melihat awak Korea memperlakukan ABK Vietnam lebih baik. "Kalau ngomong sama orang Indonesia itu nggak ada sopan-sopannya. Tapi giliran sama orang Vietnam, biar orang baru, tetap dihargai, tetap ngomongnya pelan," ujarnya. Menurut dia, pekerjaan berat lebih sering dibebankan kepada ABK Indonesia.
Ridawan menyaksikan kekerasan pada hari pertamanya melaut di Mokpo. Seorang ABK Vietnam lalai memperhatikan tali sehingga perangkap kepiting tergilas. Kapten lantas memukul kepala ABK itu. Ridawan membandingkannya dengan pengalamannya di kapal Taiwan. "Di lautan setahun-setahun, nggak ada kekerasan kayak gini. Ini di Korea, ibaratnya negara maju. Malah gampang banget main tangan," katanya.
Tiga setengah bulan kemudian, Ridawan dipukul kapten. Ia melawan. "Senior itu memang nggak ada yang berani ngelawan. Cuma aku yang ngelawan," ujarnya. Perkelahian berlanjut hingga ke darat. Kapten menyuruhnya pergi, sedangkan pemilik kapal, ayah sang kapten, memintanya bertahan. Ridawan memilih pindah ke kapal lain.







“Kadang-kadang satu minggu cuma sekali masak ayam atau daging”
Caswanto
Lauk Seadanya, Kerja Tak Ada Habisnya
Caswanto dan tiga rekannya di kapal layur beragama Islam. Juru masak kapal, seorang awak Korea, hampir selalu memasak daging babi. Ayam atau daging sapi, kata Caswanto, hanya dimasak sekali sepekan.
Caswanto dan rekannya hanya bisa makan lauk yang tersisa. "Kayak tahu sama sayur. Kadang-kadang sayur sama nasi doang," katanya. "Saya kurang energi dan protein."
Caswanto pernah menyampaikan keberatan kepada majikan. Namun, perubahan hanya bertahan sehari. "Yang masak kan bukan majikan. Hari ini ya, besok-besoknya kayak biasa lagi," ujarnya.
Kondisi itu tidak terjadi di semua kapal. Fajar menyebut makanan di kapal jaringnya cukup dan awak mendapat air kemasan. Darto dan Ridawan juga menilai makanan di kapal mereka layak. Sebaliknya, Abdurrohim mengaku sering kelaparan. Berat badannya turun 8 kilogram selama dua bulan di Korea.

Tak Bisa Menolak Badai
Selama dua tahun di kapal cumi, Darto mengaku sering bekerja dalam cuaca buruk. "Sering sekali. Berbahaya banget," katanya.
Menurut Darto, kapal libur bila badai datang sebelum keberangkatan. Namun, bila badai datang saat kapal sudah di tengah laut, awak tetap bekerja. Darto mengingat alasan yang disampaikan atasannya. "Karena ikan agak banyak. Katanya itu buat gaji-gaji kalian," ujarnya.
Darto juga mendengar cerita dari rekannya bahwa ombak besar pernah menghantam haluan kapal dan melempar seorang awak senior, sebelum Darto bergabung. Dahi awak itu harus dijahit.
Caswanto menyebut bekerja dalam badai sebagai pengalaman terburuknya di Korea. Awak kapal layurnya menggunakan tiang bambu yang berat sebagai penanda pancing. Mereka harus mengangkat dan melempar bambu itu ke laut melawan arah angin. "Tambangnya bisa nyangkut ke tangan ataupun ke kaki. Kalau kita gak cekatan, bisa patah," katanya.
Saat badai, Caswanto hanya mengenakan jas hujan dan sepatu bot. "Tidak pakai pelampung," ujarnya. Ia mengaku tidak bisa menolak. "Udah kewajiban saya, posisi kerjaan saya di situ. Mau gak mau saya harus lakuin meskipun berisiko."
Baru pada 1 Juli 2026 pemerintah Korea mewajibkan setiap orang di geladak terbuka kapal ikan memakai pelampung, apa pun cuacanya dan berapa pun jumlah awaknya. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea, kecelakaan kapal ikan seperti tabrakan, terbalik, dan kandas memakan sekitar 100 korban setiap tahun.
Tresno menyampaikan hal senada. "Biasanya bos tetap berangkat, tetap kerja. Disuruh kerja, nggak mikirin ABK-nya," katanya.
Ridawan membandingkan praktik di pelabuhan Korea dengan Taiwan. Di Taiwan, menurut dia, petugas pelabuhan mencatat dan memeriksa awak setiap kali kapal keluar. Di pelabuhan tempatnya bekerja di Korea, ia tidak melihat pemeriksaan semacam itu. "Keluar masuk bebas. Kadang angin-angin juga malah pada keluar itu kapal," ujarnya.
Bila kapal sedang melaut, pemeriksaan laporan perundungan boleh ditunda sampai kapal tiba di pelabuhan berikutnya.

Menelan Luka demi Tetap Bekerja
Di atas kertas, hukum Korea melindungi mereka. Undang-Undang Pelaut Korea melarang siapa pun di kapal memaksa awak bekerja dengan kekerasan, ancaman, atau pengurungan, serta melarang perundungan di tempat kerja. Agen penempatan di Korea wajib mengunjungi awak dan majikan setidaknya sekali dalam tiga bulan, membuka layanan konseling lewat telepon, dan melaporkan hasilnya kepada Suhyup.
Namun, undang-undang yang sama membolehkan pemeriksaan laporan perundungan ditunda bila kapal sedang melaut, setelah mendengar pendapat korban, sampai kapal tiba di pelabuhan berikutnya.
Pedoman Pengelolaan Awak Asing yang diterbitkan Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea memuat jalur serupa untuk kekerasan di kapal. Bila kekerasan terjadi, kapten melapor kepada pemilik kapal, lalu komite disiplin di atas kapal menjatuhkan sanksi kepada pelaku. Laporan kepada kepala kantor kelautan dan perikanan daerah baru wajib dibuat "segera setelah kapal masuk pelabuhan dalam negeri".
Para ABK yang kami wawancarai jarang memakai jalur itu. Sebagian besar memilih diam.
Caswanto, misalnya, tidak pernah melaporkan awak Korea yang melempar ikan ke tubuhnya. "Selama saya di sana, saya masih bisa ditangani sama saya sendiri," katanya. Ia mengaku ingin membalas, tetapi menahan diri. "Gak bisa apa-apa. Saya jalanin aja sesuai kontrak."
Menurut Caswanto, ia takut masalah membesar. Ia juga sadar posisinya lemah bila perkara itu sampai ke aparat. "Bahasa juga minim, beda dengan orang Korea. Bahkan bisa memutar-balikkan faktanya," ujarnya.
Fajar tidak membalas pukulan di kepalanya karena tidak tahu harus mengadu kepada siapa dan belum lancar berbahasa Korea. Makian dari awak senior ia anggap biasa. "Tujuan saya dari Indonesia bekerja mencari uang. Jadi nggak saya ambil hati," katanya.
Abdurrohim menimbang hal serupa saat ditendang di kapal layur di Jeju. "Pikiran saya gak ngelawan daripada dipulangin," ujarnya.
Ketakutan yang sama disampaikan seorang ABK Indonesia yang menyelesaikan kontrak 4 tahun 8 bulan di kapal pesisir Korea kepada Newstapa. "Kalau kami melawan, kami takut dipulangkan ke Indonesia. Ombak tinggi pun kami harus tetap bekerja," katanya.
Belum Hilang Lelah, Sudah Diseret Laut
Pada Januari 2025, kapal perangkap kepiting tempat Tresno bekerja beroperasi di dekat Pulau Dokdo, perairan perbatasan Korea dan Jepang. Menurut Tresno, suhu udara pagi itu minus 15 derajat Celsius.
Malam sebelumnya ia baru tidur pukul 03.00. Sekitar pukul 05.30, ia bangun dan mulai bekerja.
Langit masih gelap. Tresno sudah melempar dua perangkap kepiting ke laut ketika seutas tali melilit tubuhnya dan menyeretnya ke dalam air. "Untungnya talinya lepas. Saya renang-renang sebisa mungkin sambil menunggu bantuan," tuturnya.

Seorang rekannya melihat Tresno jatuh dan melapor kepada kapten. Kapal berputar balik dan tiba di dekatnya sekitar 10 menit kemudian. Rekan-rekannya melemparkan pelampung, turun lewat tangga, mengikat tubuh Tresno, lalu menariknya ke atas kapal. "Saya sudah enggak bisa, benar-benar lemas," katanya.
Di atas kapal, awak melepas pakaiannya yang basah dan membaringkannya di kasur penghangat. Tresno menyebut pertolongan itu "ala kadarnya". Leher dan kepalanya terluka. Tangan kanannya tidak bisa digerakkan dan berlumuran darah. “Seperti terasa remuk,” katanya lirih.
Kapten lalu mengarahkan kapal mendarat dan mencari dermaga terdekat. Perjalanan memakan waktu 17 jam.
Kecelakaan seperti yang menimpa Tresno bukan peristiwa langka di kapal ikan Korea. Menurut analisis Korea Maritime Transportation Safety Authority (KOMSA), dalam lima tahun terakhir 428 awak kapal ikan tewas atau hilang. Sebanyak 261 orang di antaranya, sekitar 61 persen, menjadi korban kecelakaan kerja di atas kapal, seperti jatuh ke laut, terlilit tali, atau terjepit alat tangkap, bukan karena kapal tenggelam atau bertabrakan.
Ikon orang: dalam lima tahun, 428 awak kapal ikan Korea tewas atau hilang. 261 di antaranya akibat kecelakaan kerja di atas kapal. Pada 2024, korban tewas dan hilang di kapal ikan naik dari 78 menjadi 118 orang.
Angkanya memburuk pada 2024. Data Pengadilan Keselamatan Maritim Korea (KMST) yang dikutip harian Kyunghyang menunjukkan jumlah awak kapal ikan yang tewas atau hilang naik dari 78 orang pada 2023 menjadi 118 orang. Awak asing ikut menanggungnya. Menurut Maeil Shinmun, kasus korban jiwa dan luka di kalangan awak asing melonjak dari 16 kasus pada 2023 menjadi 52 kasus pada 2024, sekitar sepertiga dari seluruh korban kecelakaan laut tahun itu.
Ketika ditanya apakah ia kelelahan pada pagi yang menyedihkan itu, Tresno menjawab datar. "Kalau capek, sih, ya biasa."
Jadwalnya malam itu bercerita lain. Ia akhirnya mengakui baru tidur pukul 03.00 dan bangun pukul 05.30. Tidurnya tak sampai tiga jam, setelah sehari bekerja hampir 20 jam. Ketika tali itu menyeretnya, ia baru setengah jam terjaga, di geladak yang gelap dan dingin.
Kurang tidur menggerus kewaspadaan tanpa terasa. Dalam studi yang dimuat jurnal Sleep pada 2003, peneliti Universitas Pennsylvania membatasi tidur relawan menjadi enam atau empat jam semalam selama dua minggu. Kemampuan berpikir mereka merosot hingga setara orang yang tidak tidur sampai dua malam berturut-turut. Para relawan sendiri nyaris tidak menyadarinya.
Tresno enggan menyalahkan siapa pun atas kecelakaannya. Namun ketika diminta menyampaikan pesan, ia tidak bicara soal tali, cuaca, atau pelampung. "Jam kerjanya itu kan kadang gak mikir. Kadang kita kerja 24 jam," katanya.