Pulitzer Center Update September 18, 2026
Tiga Akademisi Menang dalam Lomba untuk Mengkaji Isu-isu Iklim dari Sudut Pandang Jurnalistik
Negara:
Journalist-Academic Dialogue (JAD) hadir sebagai ruang untuk mempertemukan pengetahuan, perspektif, dan insights dari berbagai peristiwa penting terkait isu lingkungan dan iklim. Pada dasarnya, program ini ingin mengeksplorasi peluang sinergi antara dua dunia yang memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman publik: jurnalisme dan akademik.
Setelah melalui beberapa penyempurnaan dalam model program, pada 2026 JAD memperkenalkan pendekatan baru melalui Call for Write-Ups setelah rangkaian webinar tematik, kolaborasi kami dengan The Conversation Indonesia. Kesempatan ini ditujukan bagi akademisi dan peneliti untuk merefleksikan isu yang dibahas dalam webinar berdasarkan perspektif empiris dan keilmuan mereka, agar membawa dimensi dan pemahaman kontekstual pada isu. Harapannya, tulisan-tulisan tersebut tidak hanya memperkaya insights yang telah dihadirkan oleh para grantee dan fellow Pulitzer Center, tetapi juga menawarkan analisis yang tajam serta gagasan yang dapat berkontribusi pada solusi yang bermakna.
Proses ini menjadi semakin menarik karena para akademisi dan peneliti terlebih dahulu mengikuti diskusi tematik yang menghadirkan perspektif jurnalistik melalui sejumlah topik, antara lain:
- Kelautan dan Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUUF): Why are modern pirates still ruling our seas?
- Transparansi dan Tata Kelola: The dirty business trail destroying indigenous homes and forests in the Amazon & Halmahera
- Iklim dan Pekerja: Who protects workers when the planet heats up?
Di Pulitzer Center, proses seleksi submisi menjadi perjalanan berharga bagi tim kami untuk melihat bagaimana sebuah liputan jurnalistik yang mendalam dan investigatif dapat memantik pertanyaan kritis di kalangan akademisi. Setiap tulisan menunjukkan bagaimana temuan jurnalistik dapat dibaca kembali melalui perspektif akademik, kemudian dikembangkan menjadi refleksi, analisis, dan gagasan baru. Membaca tulisan-tulisan tersebut telah menghadirkan sebuah harapan sederhana: jika sebagian dari gagasan dan rekomendasi dapat berkembang di kalangan yang lebih luas - bagaimana liputan dapat memberikan ide pada ragam diskusi dan menginspirasi untuk mengembangkannya pada konteks berbeda.
Transparansi dan Tata Kelola
Pemenang tulisan terbaik dari Call for Write-ups bertema Transparansi dan Tata Kelola, Geger Riyanto, melalui tulisannya, ‘Hidup di zona konsesi: Ketika warga ibarat nyamuk dalam perekonomian berbasis SDA Indonesia’ , telah terbit di platform The Conversation Indonesia. Tulisan tersebut menghadirkan refleksi penting mengenai bagaimana masyarakat yang hidup di dalam atau di sekitar zona konsesi seolah harus hidup berdampingan dengan “raksasa” - dalam hal ini korporasi. Geger juga mengangkat bagaimana warisan arsitektur ekonomi dan hukum pertanahan pada masa kolonial Belanda masih memiliki pengaruh hingga saat ini.
Tulisan tersebut terinspirasi dari liputan jurnalistik Irfan Maulana mengenai suku O’Hongana Manyawa, salah satu kelompok masyarakat nomaden hutan yang tersisa di Indonesia dan menghadapi tekanan untuk meninggalkan wilayah hutan serta berpindah ke kawasan pesisir.
Kelautan
Setelah diskusi JAD yang mengangkat isu Illegal, Unreported and Unregulated Fishing (IUUF) di perairan Arafura melalui liputan Abdus Somad, tulisan Widhya Nugroho berjudul, ‘Kapal Kapal Gelap di Laut Arafura: Mengapa Penangkapan Ikan Ilegal Masih Sulit Diberantas?’terpilih sebagai tulisan opini terbaik untuk topik kelautan.
Op-ed ini menyoroti kompleksitas implementasi monitoring IUUF di perairan Indonesia, sekaligus memberikan sentilan penting mengenai perlindungan terhadap penghidupan nelayan skala mikro. Tulisan tersebut menunjukkan bahwa upaya memperkuat tata kelola laut tidak dapat dilepaskan dari bagaimana kebijakan tersebut berdampak pada masyarakat yang kehidupannya bergantung langsung pada sumber daya laut.
Iklim dan Pekerja
Dalam Call for Write-ups bertema Iklim dan Pekerja, Cristiar Samosir, melalui tulisannya ‘Redefining Force Majeure: Excluding Climate Extremes To Protect Indonesian Workers’ , mengangkat persoalan penting mengenai perubahan iklim dan bagaimana konsep force majeure atau keadaan kahar dipahami dalam konteks perlindungan pekerja.
Tulisan ini juga menarik karena memperkenalkan praktik-praktik baik dari India dan negara lain dalam melindungi pekerja dari dampak perubahan iklim. Refleksi tersebut berangkat dari liputan oleh Asnil Bambani mengenai perjuangan pekerja di kawasan industri yang terdampak bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia.
Kami sangat bangga sekaligus terinspirasi melihat bagaimana sinergi antara dua dunia, jurnalisme dan akademik, dapat menghasilkan ide dan perspektif baru yang berpotensi membawa dampak nyata. Sinergi Jurnalisme dan Akademisi saling mengisi untuk memahami isu-isu yang rumit. Ketika keduanya bertemu, muncul ruang untuk memahami persoalan secara lebih utuh sekaligus membayangkan solusi yang lebih kontekstual.
Melalui JAD, kami berharap ruang pertemuan ini dapat terus berkembang—bukan hanya sebagai pertukaran pengetahuan, tetapi juga sebagai proses bersama untuk mengubah insights menjadi gagasan dan, pada akhirnya, mendorong perubahan yang lebih baik bagi masyarakat dan lingkungan.
RELATED INITIATIVES
Initiative
Southeast Asia Education Program