Terjemahkan halaman dengan Google

Artikel Publication logo May 7, 2021

Dari pengetahuan lokal hingga Van Steenis, restorasi ekosistem diteruskan

Negara:

Penulis:
Mount Bromo with smoke, with Mount Batok in the foreground, and Mount Kursi and Mount Gunung Semeru in the background, volcano, in Bromo Tengger Semeru National Park. Image courtesy of Shutterstrock. Indonesia, date unknown.
bahasa Indonesia

Konsep reforestasi ini bukan semata-mata tujuan fisik yaitu hutan tumbuh kembali namun ada proses...

SECTIONS

Biji kesek setelah dipetik dan siap disemai tanpa perlakukan khusus di green house Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Titik Kartitiani/Ekuatorial.

Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru  (TNBTS) memiliki suhu ekstrim untuk restorasi ekosistem dengan suhu yang bisa turun hingga minus 13 derajat celcius. Sementara Indonesia masih minim literasi tentang pohon rimba yang cocok untuk suhu ekstrim seperti itu, cara mengatasi suhu ekstrim, hingga teknik pengecambahan benihnya.

Dengan mempraktekkan pengetahuan setempat, membaca catatan sejarah para naturalis, dan melibatkan masyarakat sebagai pelaksana, program restorasi ekosistem TNBTS mengukir keberhasilan pohon tumbuh sebesar 83 persen. Tak hanya itu, masyarakat setempat mendapatkan alih  pengetahuan yang menjadi bekal mereka untuk melaksanakan penanaman pohon secara swadaya.

Program Restorasi Ekosistem TNBTS oleh JICA (Japan International Cooperation Agency) dan yang kemudian dilanjutkan oleh JICS (Japan International Cooperation System) bukan hanya merupakan program pemulihan ekosistem yang melibatkan masyarakat, namun juga percobaan untuk mengenali karakteristik tumbuhan langka di TNBTS.

Mulai dari karakteristik penyebaran biji, teknik pengecambahan, pertumbuhan, dan mengatasi kondisi suhu ekstrim. Pengalaman ini kemudian digunakan masyarakat untuk mempersiapkan  bibit sendiri dan melakukan penanaman secara swadaya setelah program berakhir pada Maret 2020.

Selama setahun pada awal program, kegiatan hanya mengumpulkan data mulai dari letak pohon induk, waktu menghasilkan biji, hingga menginventarisasi teknik pengecambahan biji.

TNBTS dan lembaga studi kehutanan yang ada di Indonesia belum memiliki data tentang data pohon rimba secara lengkap. Maka kami memulai pendataan dari awal ketika memulai program.

Andi Zulkarnain, pendamping masyarakat Desa Ranupani

“Pada dasarnya, treatment pada pengecambahan biji meniru cara orang lokal. Misal, ada biji yang diperlakukan dengan abu gosok, direndam air, ada yang ditunggingindimiringin, semua itu kita tiru,” kata Andi, yang menjadi koordinator program restorasi ekosistem pada tahun 2015 hingga 2020.


Suwandi, warga desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur sedang mengumpulkan benih dari hutan untuk bahan pembibitan. Foto: Titik Kartitiani/Ekuatorial.

Inventarisasi pohon dan pengecambahan biji

Sebelum melakukan proses budidaya pohon rimba, tim melakukan inventarisasi dan pengelompokan pohon rimba yang akan dibiakkan. Menurut Andi, inventarisasi pohon induk sudah dimulai dari tahun 2013, sebelum program dimulai.

“Tahun 2013, kami melakukan inventarisasi pohon induk. Kami cari ada 39 jenis pohon kemudian kami melakukan tagging. Pohon yang kami tandai tingginya rata-rata di atas 30m. Pohon-pohon tinggi ini masih banyak di sekitar Ranu Regulo,” terang Andi. Ranu Regulo merupakan danau yang terletak di samping Ranu Pani, desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Danau itu maish termasuk di dalam kawasan TNBTS.

Ketika program restorasi dimulai, tim yang terdiri dari masyarakat setempat mulai mengumpulkan biji dari pohon yang ditandai dan juga dari pepohonan jenis yang sama di sekitarnya, untuk kemudian melakukan penyemaian.

“Pada saat pengumpulan benih dan penyemaian, kami melibatkan 5 orang warga lokal termasuk Pak (Su)Wandi. Mereka lebih mengenal pepohonan rimba ini dan tahu cara penyemaiannya, cuman caranya yang beda,” kata Andi. Pada saat itu juga, tim membangun 3 green house seluas 500m2 di pinggiran hutan dimana penyemaian dilakukan.

Awalnya, tim melakukan penyemaian dengan menggunakan tanah humus yang dimasukkan ke polibag kemudian benih ditanam.

“Cara ini menjadikan media menjadi keras sebab butiran tanah yang halus menjadi padat,” kata Suwandi (37), salah satu warga yang hingga kini masih terus menanam.


Penyemaian benih kesek (Dodonea viscosa) di media tanah kasar (granula) di green house Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Foto: Titik Kartitiani/Ekuatorial.

Kemudian tim mencoba metode lain yaitu dengan menyaring media dengan saringan 3mm dan mengambil granula (bagian yang kasar) sebagai media. Melalui metode ini, porositas media terjaga sehingga air penyiraman tidak menggenang, ada rongga tanah, dan mikoriza (jamur akar) yang mendukung pertumbuhan tanaman yang baik sehingga pertumbuhan bibit lebih cepat. Selain itu, media yang berongga juga  lebih ringan untuk diangkut. 

Selain media, masing-masing jenis tumbuhan memiliki cara berkecambah yang berbeda.

“Kita memperhatikan cara benih tumbuh di alam saat biji jatuh. Ada yang tumbuhnya terlentang, miring, setengah terbenam dan lain-lain. Posisi itu yang kami tiru di persemaian,” kata Andi.

Andi mencontohkan, untuk benih Putih Dada (Acer laurinum) akan mudah tumbuh bila dibenamkan separuh. Sementara biji Pasang perlu ditutup sebab disukai tupai dan tikus. Ada lagi, jenis Palem harus disangrai terlebih dahulu.

Percobaan tersebut ada yang yang sukses sehingga menghasilkan bibit dengan mudah. Namun ada juga yang tetap sulit bahkan sampai saat ini tidak tahu cara membiakkannya, sehingga harus dikeluarkan dari daftar jenis yang dibiakkan.

“Misalnya Danglu (Angel aradia). Bijinya banyak, tapi viabilitasnya sangat rendah. Dari ribuan benih yang kami tanam, hanya 1-3 benih yang tumbuh. Di alam pun susah ditemukan anakannya,” kata Andi. Benih Danglu memiliki sayap yang membawa biji yang sangat keras dan gatal jika kena kulit. Sayap tersebut membawa benih danglu terbang jauh dari induknya sehingga di bawah tegakan pohon induk jarang ditemukan anakannya.

Namun ada juga yang pembenihannya mudah yaitu kesek (Dodonea viscosa). Dalam satu genggam benih yang diambil dari hutan, bisa menghasilkan ribuan bibit dalam persemaian.

Dari 39 jenis biji yang ditemukan di hutan kemudian diperlakukan sesuai dengan pengetahuan setempat, hanya 21 jenis yang bisa berkecambah dan tumbuh hingga mencapai minimal 5cm.

Dari 21 jenis yang berhasil tumbuh ini kemudian dipilih lagi yang pertumbuhannya cepat dan mudah dalam perawatan. Dari pemilahan ini, tim mendapatkan 11 jenis pohon hutan unggulan.

Sejumlah 11 jenis yang terseleksi ini diamati pertumbuhannya untuk menentukan letak/konfigurasi penanamannya di lahan. Pengelompokannya terdiri atas pohon pioner, sub klimak, dan klimak. Meski ditanam bersamaan, masing-masing kelompok pohon memiliki pertumbuhan yang berbeda sehingga harus diperhatikan tata letaknya.

Kelompok pionir merupakan kelompok tumbuhan yang cepat tumbuh sehingga cepat menutup lahan yang gundul dan menciptakan iklim mikro yang mendukung pertumbuhan tanaman klimak dan sub klimak. Setelah tumbuh cepat, biasanya akan berhenti dan dilanjutkan dengan dominasi tumbuhan sub klimak.

Tumbuhan ini agak lama tumbuh namun kuat. Terakhir akan didominasi kelompok tumbuhan klimak yang menjadi tahap akhir proses restorasi. Jika tumbuhan klimak ini sudah tumbuh bagus maka terjadi pemulihan ekosistem.

“Tidak semua jenis pionir atau fast growing ini kita tanam bersama, kita selingi yang klimak dan sub klimak. Ketika proses suksesinya berjalan, mereka akan tumbuh seperti alaminya,” jelas Andi.

Ke-11 jenis pohon unggulan yang ditanam terdiri atas empat jenis tumbuhan pionir, dan tujuh jenis klimak. Kelompok pohon pioner termasuk Kesek (Dodonea viscosa), Tunjung (Homalanthus gigantea), Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana), dan Kelandingan (Paraserianthes lophanta). Sedangkan kelompok klimak yaitu Manting (Syzigium accuminitissium), Derayam (Calauxylon sp.), Putih Dada (Acer laurinum), Nyampuh (Litsea noronhae), Pasang (Lithocarpus sp.), Tarena (Tarena sp.), dan Mindi (Macaranga tanarius).

Setelah penyiapan bibit dan proses penanaman, tahapan selanjutnya yaitu pemeliharaan tanaman. Tahap ini juga menghadapi tantangan menarik,  yaitu melawan suhu yand dapat mencapai minus 13 derajat di kawasan TNBTS.


Sumber data: Japan International Cooperation Agency. Grafis: Titik Kartitiani

Mencairkan embun beku

Pada awalnya, TNBTS dipilih sebagai lokasi restorasi ekosistem oleh JICA/JICS yang kemudian dilanjutkan oleh masyarakat karena mewakili kondisi iklim ekstrim di Indonesia. Menurut rekaman data JICA pada kurun waktu 2010-2015 (data suhu ini diambil selama pelaksanaan proyek di TNBTS), suhu siang hari pada musim kemarau antara 32 derajat celcius-38 derajat celcius, malam hari pada waktu tertentu bisa minus 8,3 derajat celcius.

Paling dingin pernah mencapai minus 13 derajat celcius di Ranu Regulo pada tahun 2013 sehingga banyak tanaman mati. Faktor suhu ekstrim inilah yang menjadikan TNBTS terpilih menjadi lokasi restorasi ekosistem.

Ada 5 kawasan konservasi dengan berbagai tipe ekosistem, selain TNBTS, mewakili kawasan dengan tanah subur yang menjadi target. Lokasi selanjutnya Taman Nasional Merapi di Jawa Tengah (kawasan berpasir dan lahan erupsi), Taman Nasional Taman Nasional Manupeu Tanah Daru di NTT (kawasan munson, cenderung ke alang-alang), Taman Nasional Sembilang di Sumatera Selatan (kawasan bakau yang rusak akibat tambak liar), dan Taman Nasional Gunung Cermai di Jawa Barat (kawasan tanah berbatu).

“Di TNBTS, areal terdegradasi di zona rehabilitasi luasnya 2.200 ha yang perlu dilakukan restorasi. Tapi kita tidak ingin mengambil skala luas. Awalnya kami mengambil 100 ha selanjutnya seluas 56 ha,” kata Andi dengan menambahkan bahwa letak kedua areal restorasi tersebut berdampingan.

Pada saat penanaman yang dilaksanakan awal tahun 2011 Andi melibatkan lebih dari 90 orang. Sistemnya, dibagi per RT. Masing-masing RT mengajukan 10-15 orang warganya untuk menanami lahan seluas 5  hektar. Total ada 9 RT selama 4 bulan sehingga area seluas 100 hektar tertatami semua. Rata-rata per hektar 660 pohon.

Selanjutnya, untuk tahap pemeliharaan intensif per RT 2 orang yang dijadikan 1 tim, jadi ada 18 orang. Perawatan terdiri dari pembersihan jalur, penyiangan, dan pemupukan. Total ada 10 plot permanen dengan perlakuan beda-beda. Ada yang dipupuk saja dan ada yang disiangi saja. Hasil yang paling bagus adalah plot yang dipupuk dan disiangi.

Hal yang membutuhkan perawatan ekstra adalah ketika embun beku menyerang. Ini tantangan paling berat di lokasi TNBTS. Berbagai cara sudah dicoba, mulai dari mencontoh literatur yang ditulis oleh Van Steenis dalam Flora Pegunungan Jawa (2006 yaitu dengan menggali lubang sedalam 1 m di sekitar pohon. Juga catatan naturalis Belanda, Franz Wilhelm Junghuhn bahwa embun beku hanya menyerang 50 cm ke bawah dari tanaman. Maka tim menyelimuti tanaman setinggi 50 cm. Tetapi ternyata Kedua cara ini  masih tidak berhasil.

Akhirnya, cara yang paling efektif dilakukan adalah  sebagaimana cara yang dilakukan petani kentang ketika menghadapi embun beku yaitu menyiramnya dengan air. Saat embun beku menyerang pada malam hari, pagi sebelum matahari terbit, tim menyiram pohon dengan air untuk mencairkan embun tersebut. Meski lebih efektif, tetap membutuhkan tenaga yang tak sedikit.

“Jam 5 pagi pas masih dingin-dinginnya, kami menyiram agar embun yang beku cair sebelum matahari terbit. 100 hektar plot permanen yang kami siram berhasil tumbuh dengan bagus,” kata Andi.


Embun Beku. Pada musim kemarau, suhu di Ranu Regulo. Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mencapai minus 8-13 derajad celcius yang menyebabkan embun beku. Foto: Andi Zulkarnain.

Berbagai perlakukan tersebut, akhirnya menghasilkan  data ragam pohon yang tahan terhadap embun beku yaitu Cemara Gunung (Casuarina junghuniana), Kesek (Dodonia fiscosa), Putih Dada (Acer laurinum), dan Tunjung (Cumalantus gigantius). Sebenarnya yang paling kuat adalah Sambugus javanicus karena batangnya berminyak. Tapi bentuknya seperti semak sehingga bukan prioritas untuk ditanam.

Dari proses panjang pengumpulan benih hingga perawatan yang intensif, j 70%  pohon yang ditanam berhasil tumbuh besar pada tahap pertama (program JICA). Sedangkan pada saat program lanjutan dengan JICS tingkat keberhasilannya mencapai 83% pohon karena tim sudah memiliki pengalaman. Sementara target  TNBTS yang merujuk pada target nasionaldalam penanaman pohon hanya 40%.

Novita Kusuma Wardani, plt Kepala Balai Besar TNBTS, mengatakan keberhasilan tumbuh hingga 83% ini termasuk tinggi.

Pemeliharaan intensif menjadikan keberhasilan tumbuh menjadi tinggi. Selain itu, pelibatan masyarakat sejak awal tak hanya mendukung keberhasilan program tapi juga ada transfer ilmu pengetahuan sehingga masyarakat bisa melanjutkan secara swadaya.

Novita Kusuma Wardani, plt Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Masyarakat yang terlibat pun memperoleh pengalaman dan pengetahuan. Beberapa dari mereka justru mendapatkan tambahan penghasilan dengan menghasilkan bibit sendiri. Ada yang dijual ke pemerintah (TNBTS dan Pemkab Lumajang), ada yang dibeli oleh komunitas untuk penanaman di kawasan TNBTS. Selebihnya, bibit pun ditanam secara swadaya oleh masyarakat untuk merestorasi kawasan TNBTS.*


*Liputan ini didukung oleh Rainforest Journalism Fund, Pulitzer Center.

RELATED ISSUES

Environment and Climate Change

Issue

Environment and Climate Change

Environment and Climate Change
Rainforests

Issue

Rainforests

Rainforests

RELATED INITIATIVES

Rainforest Journalism Fund

Initiative

Rainforest Journalism Fund

Rainforest Journalism Fund

Support our work

Your support ensures great journalism and education on underreported and systemic global issues